Ajari aku menggunakan pena.
Akan kutulis gemerecik air, udara dingin, kabut senja,
sampai daun gugur… (Yus R. Ismail)
Saya suka menulis dari kecil. Waktu baru bisa nulis, setiap ada lahan kosong saya tinggalkan jejak di sana. Klo tembok rumah sih jangan ditanya deh, itu udah jadi papan tulis kesayangan saya. Ga keitung berapa kali bapak saya ngecat ulang tembok rumah. Lagi marah, seneng, sedih, kecele, malu, takut, sakit, kejepit, aduh aaauw bedarah nih!?!?!?, pasti saya nulis. Klo dulu di tembok, sekarang sih ga lagi abis malu keliatan sama tamu hehehe.
Pendapat yang sering nimpa tulisan saya adalah “ ih ga kebaca nih”. Ya iyalah coz saya nulisnya pake tangan. Yang paling kasian guru-guru saya, klo ujian esay pasti menderita banget meriksa ujian saya. Tapi ya sudahlah toh udah lulus ini dari sekolahan. Makasih ya bu guyu nd pa guyu, maap ngrepotin…
Walopun saya seneng abis sama yang namanya nulis, sebenernya saya sempet punya masalah. Pertama, tulisan saya jelek. Kedua, saya ga bisa-bisa untuk nulis yang baik dengan benar. Masalah pertama sih bisa ditanggulangi, coz sekarang ada komputer gituh lho. Tapi masalah yang kedua ini yang sulit.
Waktu itu, saat saya pertama kali semangat ingin nulis, merasa klo puisi di awal tulisan ini, sangat gua banget! Banyak hal yang ingin saya ungkap nd tuliskan dari jagad raya ini. Tapi kok rasanya susah atau lebih tepatnya saya terlalu bingung gituh untuk menuliskannya. Yang membuat saya bingung, harus seperti apa saya menulis. Menulis sesuatu yang baik dengan benar. Bukan sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang jadi masalah saya. Tapi gimana caranya nulis sesuatu yang baik agar bisa dilihat, dicerna, dimutajasadkan seseorang ke dalam pemikirannya gituh deh.
Tau kan Ulil Abshor? Pengusung ide Islam Liberal ini sangat produktif dalam hal tulis menulis. Doi nd konco2nya bisa menciptakan tulisan2 dengan benar, walopun saya tidak mau bilang isi tulisan itu baik. Saya hanya menilai cara penulisan mereka yang benar. Tulisan2 kang Ulil nd the gank mampu merasuki pemikiran2 sebagian orang saat ini, itu bukti bahwa cara menulis kang Ulil nd the gank sudah benar alias efektif. Ga heran klo saya jalan2 ke warung2 buku sampe ke butik2 buku, bisa dengan mudah nemuin tulisan karya kang Ulil nd the gank dengan label Liberalnya.
Saya pun ga heran klo saat ini jumlah populasi pemuda nyentrik yang liberal terus bertambah, bertambah, dan bertambah. Bisa jadi hal ini disebabkan pengaruh tulisan2 itu. Saya di sini bukan mau ngomongin kang Ulil nd the gank. Tadi itu cuma gambaran aja bwt para anak muda yang peduli sama kelanjutan kehidupan Islam. Bahwa saat ini mereka yang mau menjadikan kehidupan makin liberal nd sekuler, udah pada lihai menggunakan pena-penanya.
Mereka lihai menuliskan guguran daun, gemerecik air, dan sebagainya. Entah berapa banyak media massa yang udah mereka tongkrongin nd berapa banyak buku yang mereka lahirkan. Klo mau itung-itungan jumlah penerbitan yang rajin menerbitkan buku2 semacam itu lebih banyak ketimbang buku2 Islami apalagi buku Islam yang ideologis. Sekarang ini penerbit buku Islam aja udah banyak yang dengan ikhlas nd rela sekali nerbitin buku-buku ga jelas gituh deh. Tentu aja hal itu didasarkan pada profit doang. Mereka ga peduli nd ngeh sama pengaruh buku itu bwt pemikiran para pembacanya.
Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, secara garis besar penerbitan buku itu dibagi dua, yaitu penerbitan sebagai perusahaan yang merupakan mesin pencetak uang, berorientasi mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya. Kedua, sebagai lembaga intelektual, penerbit yang bertujuan menyebarluaskan gagasan atau wacana yang diusungnya, penerbit ini biasanya merupakan LSM yang menerbitkan buku dengan biaya dari lembaga-lembaga donor.
Jadi, pemilik modal terbesar saat ini memiliki kesempatan besar untuk menyebarluaskan pemikirannya dengan buku. Pertanyaannya, siapakah saat ini yang memiliki modal terbesar itu? Ya… gituh deh… mereka2 yang setiap hari mencekoki generasi bangsa dengan sekulerisme nd kebebasan itu lho yang punya modal gede (huh ngebetein banget!).
Kang Ulil nd the gank cuma sebagian kecil dari sebagian besar manusia di dunia yang menularkan virus pemikiran dengan pena-penanya. Klo disebutin satu2, ga cukup cuma satu edisi OM aja sih. Mereka semua nyebar pemikiran, gaya hidup, nd apapun deh, dari filsafat, politik, budaya, sampe yang porno2 pokoknya komplit plit plit!. Ini bukan masalah pake pena merek pilot atau masinis, atawa nelayan. Tapi masalahnya sejauh mana kita bisa menuliskan sesuatu dengan benar, klo sesuatu yang salah aja mudah diterima karena ditulis dengan benar. Apalagi sesuatu yang baik, pasti akan lebih mudah lagi diterima.
Mungkin permasalahannya bukan hanya itu. Yang pernah saya alami juga adalah memunculkan keinginan untuk menulis. Rasanya ga pede nyebarluasin hasil karya saya untuk dikonsumsi orang lain. Saya yakin di antara orang2 yang baca tulisan ini, ada yang sebetulnya sudah tau mana yang baik dan ingin menuliskannya dengan benar. Tapi terhalangi oleh benteng takeshi alias benteng kekurang pedean. Wah jangan banget tuh!
Percaya diri itu ternyata penting. Dan saya berterima kasih pada kang Ulil nd the gank yang telah membangunkan rasa percaya diri saya yang sedang tidur nyenyak. Karena tulisan2 merekalah akhirnya percaya diri saya pada pemikiran yang saya yakini ini, semakin kuat dan keinginan saya untuk belajar menulis dengan benar semakin mengakar hebat. Percaya diri saya muncul bukan karena buah pemikiran yang mereka tuliskan sudah mampu mempengaruhi saya untuk menjadi liberal. Bukan sama sekali!!!
Tapi karena saya merasa harus menuliskan sesuatu untuk membangun kembali pondasi2 Islam. Untuk memperkenalkan pada masyarakat tentang Ideologi Islam dan kehidupan Islam. Dari situlah timbul, tukul, nunung, eh keterusan deh. Maksudnya, dari situlah timbul kesadaran pada diri saya bwt belajar menulis yang baik dengan benar. Saya ga bisa diem aja liat anak2 muda lebih seneng jadi liberal ketimbang jadi Islami.
Saya ga rela, ga rela, dan ga rela! Kata ustadz Sanusi dan Sunardi, udah waktunya kita bangun wahai pemuda dan pemudi! Mikir atuh mikir hai orang2 yang beriman…
Saya mengutip perkataan seorang novelis asal Bangladesh, Nasrin, doi bilang “I write because I want to change society.” Nah lho doi itu aktivis feminisme abis lho yang punya misi nd visi ngubah masyarkat. Kebayangkan gimana dasyatnya para pengusung pemikiran2 amburadul itu semangat banget nyebar pemikirannya.
Sama seperti Nasrin, saya pun nulis karena ingin ngubah masyarakat. Menjadi masyarakat yang mulia dengan Islam. Begitu juga kawan2, iya kan?! Jadi, ayo Nulis!!! Kita harus produktif menelurkan pemikiran Islam lewat tulisan, jangan terhambat sama perasaan ga pede or ga adanya modal duit bwt nerbitin buku. Yang penting nulis aja dulu deh.
Blom lagi sekarang ini banyak media cetak yang bisa kita tembus dengan tulisan kita asalkan kita tau gimana caranya menulis yang baik dengan benar itu. Nulis emang bukan segala-galanya, kehidupan Islam ga akan tegak cuma dengan nulis aja. Tapi nulis adalah salah satu bumbu yang bisa mempengaruhi rasa masyarakat.
Klo ngliat anak muda yang angin-anginan semangat hidupnya nd semangat nulisnya, saya suka teringat perkataan seseorang. “Saya masih di sini, mencari cara mengasah pena, menulis daftar dosa, menulis sekian kesombongan, sekaligus menulis janji-janji untuk satu saja kebaikan. Dan masih belum bisa…” Hari gini gth lho. Kawan, klo kita hanya diam dan menunggu dapet keajaiban untuk bisa melakukan sesuatu, ga akan maju2 aja kali!
Banyak cara untuk mengasah pena. Bumi ini luas gituh lho!!! Pengserut, pisau, cutter dan banyak lagi pengasah, semuanya bertebaran bwt ngasah penamu. Yang penting mau atau gak kita bwt meraihnya. Pada dasarnya setiap orang bisa jadi penulis, ga peduli siapa pun itu!!! Udah waktunya kita bergerak memberikan apa saja yang kita bisa untuk perjuangan demi ridha-Nya. Udah ga penting deh memble-memble ga pede. Pede aja lagi, jangan takut dunia akan mencemooh tulisan kita, karena dunia sebetulnya butuh kita!! Jangan takut, karena standar menulis kita adalah Islam yang so pasti benar. Seperti ucapan Ken Arok pada Ken Dedes waktu dia mo pergi perang ngelawan Raja Kediri. “Buat apa berlayar kalau kau takut gelombang.” Saya setuju dengan ungkapan Kang Ken, buat apa toh hidup di dunia ini klo kita takut!!(Peanut)